
JAKARTA - Realisasi penarikan pinjaman luar negeri selama sembilan bulan pertama 2009 tercatat mencapai Rp25,89 triliun, setara dengan USD2,67 miliar. Dalam kalkulasi pemerintah, angka itu baru tercapai 44,9 persen dari target realisasi Rp57,61 triliun atau USD5,26 miliar.
Data pemerintah mencatat, realisasi utang luar negeri terbesar disumbangkan oleh pinjaman proyek sebesar Rp14,24 triliun atau USD1,47 miliar. "Angka penarikannya sekitar 55,4 persen dari rencana realisasi Rp25,72 triliun atau USD2,35 miliar," sebut data yang didapat di Jakarta Departemen Keuangam Jakarta, Selasa (3/11/2009).
Adapun pinjaman program, sebut data, baru tercapai sekitar Rp11,64 triliun (USD1,20 miliar) atau 36,5 persen dari rencana penarikan Rp31,89 triliun (USD2,91 miliar) sepanjang tahun ini. Prosentase penarikan tertinggi di pinjaman proyek adalah pinjaman dari Jepang senilai 36,6 persen atau Rp2 triliun dari rencana Rp5,48 triliun.
Realisasi selanjutnya berasal dari Bank Dunia sekitar 23,1 persen atau Rp3,83 triliun dari rencana Rp16,55 triliun. Sedang lain-lainnya sekitar Rp2,35 triliun sama sekali belum terserap.
Namun dari realisasi sepanjang sembilan bulan pertama ini, pemerintah mencatat adanya penambahan pinjaman dari Perancis di mana penarikannya mencapai Rp2,9 triliun dari rencana semula Rp2,19 triliun. Selain itu, laporan juga mencatat adanya realisasi pinjaman program dari Bank Pembangunan Islam (IDB) senilai Rp2,90 triliun.








