Penjualan Holcim 2009 Dipatok Stagnan

JAKARTA - PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) mematok realisasi penjualan semen pada tahun ini sebanyak delapan juta ton, yakni sama dengan produksi tahun lalu.

"Holcim berharap sama seperti tahun lalu, delapan juta ton," tutur Corporate Communications Manager SMCB Budi Primawan saat bertemu wartawan di Menara Jamsostek, Jakarta, Selasa (3/11/2009).

Selanjutnya dia menjelaskan, jika 80 persen dari penjualannya tersebut diserap untuk domestik. Di mana penjualannya didominasi di pulau Jawa. Sementara pangsa pasar semen nasional adalah sebanyak 37 juta ton dan sisanya baru akan dilakukan ekspor.

"Ekspor kita lakukan untuk menjaga agar mesin terus berproduksi. Karena kalau mesin berhenti akan membutuhkan cost yang mahal untuk menghidupkannya lagi," jelasnya.

Selanjutnya, untuk mengantisipasi meningkatnya permintaan, perseroan telah membuka gudang baru di Bali dua pekan lalu untuk mendukung distribusi di luar Jawa yang juga besar.

"Market kita besar, 70-80 persen di Jawa. Sumatera kedua, hal itu harus dilihat dari segi perkembangan kependudukan dan yang lebih aktif demografinya," ucapnya.

Pabrik Semen di Tuban

Di sisi lain, rencana pendirian pabrik semen di Tuban tertunda akibat krisis ekonomi, saat ini telah dikaji kembali. "Harusnya peletakan batu pertamanya Maret tahun ini, tapi menjadi mundur. Pastinya file sudah dibuka lagi," katanya.

Dari segi perencanaan dan data teknis pabrik, lanjutnya, belum ada perubahan. "Setahu saya masih sesuai blueprint yang lama," ucapnya.

Dia menjelaskan, jika proses pendirian pabrik ini membutuhkan waktu yang cukup lama, yakni tiga tahun. Sehingga nilai investasinya juga untuk tiga tahun ke depan.

Sebelumnya, Holcim menutup kajian pembangunan pabrik karena alasan tidak adanya permintaan. Padahal International Finance Corporation (IFC) waktu itu sudah menyatakan siap mendanai proyek tersebut. "Tapi setelah perekonomian membaik, kita buka lagi," jelasnya.